#header h1 { font-size:...px; /* tidak dirubah) px atau % */ color:transparent; /* color rubah ke transparent */ text-align:... ; /* tidak dirubah */ background:transparent url(https://3288785158770787760-a-1802744773732722657-s-sites.googlegroups.com/site/gubhugreyotprojects/image-posting/mart-2010/blogsetangundulAnima-gubhugreyot.gif) left bottom no-repeat; ... /* tidak dirubah */ ... /* tidak dirubah */ } BLOGAYE.COM: PENANGKARAN SARANG BURUNG WALET DI TENGAH KOTA

Rabu, 29 Agustus 2012

PENANGKARAN SARANG BURUNG WALET DI TENGAH KOTA


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang Maha Kuasa atas Rahmat dan kehendak-Nyalah penulisan karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Maraknya penangkaran sarang burung walet saat ini menjadi masalah masyarakat Kec. Ujung Bulu Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan karena banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh penangkaran tersebut. Berdasarkan dari permasalahan tersebut penulis mengangkat judul karya tulis ilmiah “ANALISIS MARAKNYA PENANGKARAN SARANG BURUNG WALET DI TENGAH-TENGAH KOTA”, yang bertujuan untuk menemukan dampak negatif, harapan, dan respon masyarakat terhadap adanya penangkaran sarang burung walet tersebut.   
Di dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis berusaha untuk memberikan hal yang terbaik. Meski penulis sudah berusaha sekuat mungkin, pastilah ada yang tidak berkenan di hati pembaca. Maka jika ada hal yang tidak berkenan di hati pembaca, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Tak lupa peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada Bapak dan Ibu Guru kami yang telah membimbing dan memberikan banyak pandangan dalam melakukan penelitian dan menyelesaikan karya tulis ini.
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menemukan berbagai kesulitan, terutama keterbatasan mengenai waktu dan penguasaan ilmu penulis. Sehingga apabila terdapat kekurangan dalam karya tulis ilmiah ini, penulis sekali lagi meminta maaf yang sebesar-besarnya. Maka, kritik dan saran yang bersifat konstruktif dan membangun sangat diperlukan demi kemajuan karya tulis ini di masa yang akan datang.

Bulukumba, April 2012


I.       PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan hasil bumi hayati maupun nonhayati. Seiring berkembangnya era globalisasi dan ilmu pengetahuan, menyebabkan perekonomian Negara Indonesia saat ini mulai krisis. Diakibatkan beberapa faktor luar maupun dalam Negeri itu sendiri. Memang pada saat ini, Indonesia belum bisa mencapai kesejahteraan umum secara merata kepada semua lapisan masyarakat. Hal ini mengakibatkan banyaknya rakyat Indonesia yang merasakan dampak buruk dari krisis saat ini.
Krisis adalah suatu keadaan yang merupakan titik balik yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau bertambah buruk. Namun, dibalik krisis ekonomi Indonesia, banyak pengusaha yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan berbagai usaha-usaha ekonomi. Salah satu usaha yang paling menonjol saat ini ialah pembangunan penangkaran sarang burung walet di tengah kota. Air liur dari burung walet diumpamakan  seperti emas, barang berharga. Komoditas yang berharga selalu menarik perhatian mereka yang ingin mendapat kekayaan terutama bagi pengusaha.
Burung walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung walet merupakan burung penghuni gua batu kapur yang dikelilingi oleh hutan lebat. Secara fisik gua merupakan pelindung bagi burung walet, karena walet menggunakan langit-langit gua untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembangbiak.
Tata Kota dalam bahasa Inggrisnya Land use adalah wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) (http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_ruang).  
Tetapi, karena tidak adanya kepedulian pengusaha terhadap keindahan lingkungan masyarakat, menyebabkan pembangunan dan tatakota di perkotaan maupun di daerah menjadi kurang  maksimal dan pengelolaannya terkesan semrawut. Karena mengurangi keindahan, keamanan, dan kelestarian lingkungan hidup. Tata kota dan keindahan kota semakin terganggu selama pembangunan rumah walet kian bertambah. Perencanaan tata kota semakin tidak teratur. Hal ini menyebabkan tataruang di perkotaan menjadi kurang efektif dan efisien.
Kota yang menjadi tempat pembangunan sarang burung walet tidak lagi menjadi kota modern, dalam artian sebagai kota nyaman yang memiliki lingkungan bersih dan teratur.  Dampak negatif lainnya bagi lingkungan yaitu bisa menggangu lingkungan sekitar dampak tersebut yakni kekhawatiran masyarakat bahwa aves dan sejenisnya menjadi media atau sarana penyebaran virus H5N1 atau virus flu burung, salah satu virus yang mematikan yang kerap menyerang ternak ayam, unggas dan sejenisnya akhir-akhir ini. Masyarakat hidup dalam satu  lingkungan dengan satwa liar bukan hal dibenarkan  dari segi  kepentingan kesehatan publik. Potensi penyebaran penyakit berbahaya oleh burung walet susah diprediksi. Selama rumah walet ada di lingkungan pemukiman bahaya dan ancaman penyakit yang disebarkan burung walet selalu ada.
Bagi pengusaha (pemilik rumah) walet supaya bisnisnya beruntung dia harus berhasil menghasilkan sarang walet banyak dan bermutu. Sehingga berdampak negatif bagi  pemukiman masyarakat yaitu penduduk di sekitar kota menjadi berpindah tempat karena takut akan ancaman-ancaman negatif di atas dan tanah tempat masyarakat  bermukim dibeli dengan harga yang cukup mahal.
Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas peneliti selaku penulis mengadakan penelitian tentang pembangunan penangkaran sarang burung walet di tengah kota. Demi tetap utuhnya kesejahteraan dan kesehatan masyarakat di sekitar penangkaran tersebut. Peneliti ingin meneliti keadaan perkembangan pembangunan sarang burung walet di tengah kota, bagaimana kondisi masyarakat tersebut, dan tujuan lainnya adalah peneliti ingin mengetahui manfaat penangkaran tersebut.

B.   Rumusan Masalah
1)    Bagaimana pandangan masyarakat tentang keberadaan penangkaran walet di tengah kota ?
2)    Bagaimanakah harapan masyarakat kepada pemerintah tentang keberadaan penangkaran sarang burung walet di perkotaan ?
3)    Adakah dampak negatif penangkaran walet terhadap masyarakat sekitar ?

C.   Tujuan
1)    Untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang keberadaan penangkaran walet di tengah kota.
2)    Untuk mengetahui harapan masyarakat terhadap pemerintah sebagai pengatur yang berwenang.
3)    Untuk mengetahui dampak negatif penangkaran walet terhadap masyarakat sekitar.





D.   Manfaat
a.    Bagi peneliti
1.    Melatih kemampuan penulis dalam membuat karya tulis ilmiah
2.    Menambah wawasan khususnya tentang pembangunan penangkaran sarang burung walet di tengah kota dan pengaruhnya terhadap masyarakat
3.    Sebagai bahan penelitian tentang pembangunan penangkaran sarang burung walet di perkotaan.
4.    Dapat menambah wawasan penulis maupun pembaca.
b.    Bagi masyarakat
1.    Bagi masyarakat, dapat menyadari betapa pentingnya melestarikan lingkungan dan menjaga keindahan kota.
2.    Menambah wawasan masyarakat tentang menjaga kelestarian kota
c.    Bagi Pemerintah
1.    Pemerintah dapat mengetahui keadaan sebenarnya dari masyarakat di sekitarnya, sehingga dapat mengambil kebijakan yang sesuai dengan permasalahan tersebut.
2.    Bagi Pemerintah, dapat memperluas wawasan dan mendapatkan ide untuk mengembangkan ataupun mempertahankan kelestarian di sekitar penangkaran sarang burung walet

II.      KAJIAN TEORI

1.    Kajian Teori
a.    Burung Walet
            Kehidupan walet memang tebilang unik. Pasalnya dari mencari makan hingga berkembangbiak, semua dilakukan di udara . itulah sebabnya burung ini dikategorikan burung layang atau swift.
            Walet berasal dari famili Apopidae. Pada dasarnya, famili Apopidae terdiri atas dua kelompk. Kelompok pertama adalah Genus Chaetura (walet ekor duri) , genus collocalia (walet gua), dan genus Cypseloides (Walet hitam dari amerika Utara). Sementara itu, kelompok kedua hanya satu genus, yaitu Apus. Walet gua atau Collocalia tercatat memiliki 26 spesies, dan 12 spesies diantaranya ditemukan di Indonesia. Namun, dari sekian banyak spesiesnya hanya dua pesies yang namanya terkenal dalam dunia bisnis walet, yaitu Collocalia fuchipaga dan Collocalia maxima.pasalnya, sarang yang dihasilkan dari kedua spesies inilah yang banyak diburu sejak ratusan tahun lalu.
            Pada dasarnya, burung walet mampu terbang selama 40 jam tanpa berhenti, dengan kemampuan terbangnya mencapai 150 km/jam . bentuk fisik dan sayapnya memang terancang untuk mendukung kehidupannya di alam terbuka. Walet memilki sayap seperti bulan sabit bentuknya memanjang dan runcing dengan panjang rata-rata 12 cm. Jika direntangkan panjangnya bisa mencapai 26 cm.    
            Jika dilihat dari Taksonominya, burung walet memiliki silsilah sebagai berikut :
·         Kingdom          : Animalia
·         Fillum              : Chordata
·         Subfillium        : Vertebrata
·         Kelas               : Aves
·         Ordo                : Apodiformes
·         Familia                        : Apodidae
·         Genus             : Collocalia
·         Spesies           : Collocalia spp
                        Burung walet merupakan burung penghuni gua batu kapur yang dikelilingi oleh hutan lebat. Secara fisik gua merupakan pelindung bagi burung walet, karena walet menggunakan langit-langit gua untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembangbiak.
                        Seperti halnya kelelawar, walet gua juga mampu melakukan ekholokasi, yaitu kemampuan mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi sehingga memungkinkannya untuk terbang di tempat yang gelap. Walet juga mampu mencari makan dalam jarak yang cukup jauh dan sering kembali ke gua beberapa jam setelah matahari terbenam.  Walet ini juga mempunyai beberapa ciri dengan Burung Sriti, tapi tetap mempunyai perbedaan. Fisiknya lebih mirip walet tetapi lebih besar. ( Redaksi AgroMedia, 2007. Kiat Praktis Budi Daya Walet, PT. AgroMedia Pustaka  : Jakarta Selatan )
b.    Tata Kota
            Tata Kota dalam bahasa Inggrisnya Land use adalah wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK).
            Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Tata ruang perkotaan lebih kompleks dari tata ruang perdesaan, sehingga perlu lebih diperhatikan dan direncanakan dengan baik. Kawasan/zona di wilayah perkotaan dibagi dalam beberapa zona sebagai berikut:
  1. Perumahan dan permukiman
  2. Perdagangan dan jasa
  3. Industri
  4. Pendidikan
  5. Perkantoran dan jasa
  6. Terminal
  7. Wisata dan taman rekreasi
  8. Pertanian dan perkebunan
  9. Tempat pemakaman umum
  10. Tempat pembuangan sampah
2.    Kerangka Fikir
Berdasarkan latar belakang, Rumusan masalah, dan Tinjauan pustaka maka, adapun yang menjadi kerangka fikir sebagai berikut :

Penangkaran Walet

Dampak Positif

Dampak Negatif

Bagi Masyarakat

Bagi Penataan Kota

Harapan Masyarakat
 











III.    METODOLOGI PENELITIAN

A.   Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang kami lakukan yaitu, penelitian deskriptif fenomena atau fakta yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar.

B.   Subjek Penelitian
Adapun subjek penelitian kami adalah masyarakat dan pemilik penangkarana sarang burung walet dipersempit mengambil beberapa sampel masyarakat.

C.   Waktu dan Tempat Penelitian
Adapun waktu penelitian pada bulan April 2012. Serta Tempat pelaksanaan penelitian di Kec. Ujung Bulu Kab. Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan

D.   Populasi dan Sampel Penelitian
Adapun populasi dalam penelitian yaitu, masyarakat kec. Ujung Bulu, dan sampel yang diambil secara acak sebanyak 30 orang.

E.    Metode Pengumpulan Data
1.    Wawancara
2.    Angket
3.    Observasi
4.    Studi Pustaka (library research), yaitu mencari informasi dan kajian dari berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian ini.

F.    Metode Analisis Data
a.    Analisis Kuantitatif
Data yang telah terkumpul diolah secara kuantitatif sehingga menghasilkan suatu karya tulis yang bersifat deskriptif. Cara ini terdiri dari angka-angka menggunakan rumus-rumus Presentase. Data yang telah diperoleh di analisis lebih lanjut dalam bentuk tabuasi data yang disusun dalam table frekuensi. Analisis data kuantitatif adalah analisis data dengan menggunakan rumus :
   100% = PH
ket : x    : Jumlah Frekuensi
             y    : Jumlah sampel
            PH : Hasil presentase
b.    Analisis Kualitatif
Analisis kuantitatif digunakan melalui interpresentase dari kuantitatif dengan menggunakan kata-kata.

IV.          JADWAL PENELITIAN
Tabel 1. Jadwal Kegiatan
NO
KEGIATAN
Bulan/Minggu
I
II
III
IV
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Penyusunan kerangka Proposal















3.     
Penyusunan cara pengambilan data















4.     
Penyusunan Analisis data















5.     
Penyusunan Laporan
















V.            KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diketahui bahwa penangkaran burung walet di Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba membawa beberapa pengaruh buruk bagi kota dan masyarakat sekitar sebanyak 75%. Pandangan masyarakat yang tidak setuju jika penangkaran burung walet dilanjutkan sebanyak 60 %. Harapan masyarakat tentang pembangunan penangkaran sarang burung walet di tengah kota sebanyak 18 % dan yang merasa ragu-ragu ialah sebanyak 38% & dampak negatif penangkaran sarang burung walet di tengah-tengah kota ialah dapat menimbulkan yang namanya flu burung dan tatakota menjadi tidak efektif dan efisien.
Harapan masyarakat terhadap Pemerintah yaitu Pemerintah seharusnya bisa mengetahui keadaan sebenarnya dari masyarakat di sekitarnya, sehingga dapat mengambil kebijakan yang sesuai dengan permasalahan tersebut & yang kedua ialah Pemerintah, dapat memperluas wawasan dan mendapatkan ide untuk mengembangkan ataupun mempertahankan kelestarian di sekitar penangkaran sarang burung walet agar masyarakat tidak terganggu.

VI.          DAFTAR PUSTAKA
·         Drs. Arief Budiman. Memanggil dan Mengasuh Walet dengan Sriti Kembang
·         Redaksi AgroMedia, 2007. Kiat Praktis Budi Daya Walet, PT. AgroMedia Pustaka  : Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar